Fasting Changes Everything For Physical and Psychological Health

 

 


PUASA

Menurut bahasa puasa berarti “menahan diri”.                                                                                        Menurut syara’ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkanya dari mula terbit fajar hingga terbenam matahari, karena perintah Allah semata- mata, serta disertai niat dan syarat-syarat tertentu.

PUASA BERDASARKAN PERSPEKTIF PSIKOLOGI

Inti perintah untuk menjalankan ibadah bagi umat Islam yaitu menahan diri atau self control.  Aspek pengendalian ini begitu penting  karena pengendalian diri merupakan salah satu komponen utama bagi upaya perwujudan kehidupan jiwa yang sehat. Dalam perspektif ilmu psikologi kemampuan mengendalikan diri merupakan indikasi utama sehat tidaknya kehidupan rohaniah seseorang. Orang yang sehat secara kejiwaan akan memiliki tingkat kemampuan pengendalian diri yang baik, sehingga terhindar dari berbagai gangguan jiwa ringan dan berat.

EFEK PUASA TERHADAP FISIK

Ketahanan Fisik

Rata- rata selisih kadar glukosa darah berpuasa dengan kerja fisik adalah   -7,07, sedangkan berpuasa tanpa kerja fisik adalah -2,13. Pengujian hipotesis menggunakan uji t diperoleh t-hitung = 2,689 berarti terdapat perbedaan selisih kadar glukosa darah yang signifikan antara berpuasa dengan kerja fisik dengan berpuasa tanpa kerja fisik.

Beberapa kesimpulan yang dapat diperoleh berdasarkan analisis, yaitu (1) Terdapat pengaruh puasa terhadap kadar glukosa darah. Terjadi penurunan yang signifikan kadar glukosa darah pada pengukuran jam 05.00 ke pengukuran jam 16.00 dan (2) Terdapat perbedaan selisih kadar glukosa antara kelompok puasa dengan kerja fisik dan puasa tanpa kerja fisik.

Berdasarkan kesimpulan penelitian Defrizal Siregar dan Juriana (2005) ini, diketahui bahwa berpuasa dengan kerja fisik tidak memberikan pengaruh yang buruk terhadap kadar glukosa darah. Sebaliknya, berpuasa dengan kerja fisik tetap memberikan kestabilan pada kadar glukosa darah normal. Kerja fisik pada saat berpuasa akan menjaga daya tahan tubuh sehingga komposisi tubuh ideal yang kita inginkan dapat tercapai.

EFEK PUASA TERHADAP PSIKIS

Memutus  Rangkaian

Puasa ramadan merupakan sebuah upaya untuk memutus rangkaian panjang gelombang emosi negatif tersebut. Setelah hampir sebelas bulan otak kita penuh dengan gelombang emosi negatif yang sangat panjang, Ramadan datang dan berperan sebagai pereda, memotong gelombang emosi negatif yang meracuni otak kita. Kegiatan ritual serta upaya pengendalian diri berperan penting dalam “mengadu pikiran-pikiran yang memicu lonjakan emosi negatif”. Dengan begitu gelombang emosi negatif yang menumpuk di otak sedikit demi sedikit memendek sampai akhirnya menghilang. Implikasinya, ingatan kerja berjalan normal, pikiran lebih tenang, dan kondisi tubuh lebih sehat. Studi berjudul Effect of Ramadan Fasting on Endorphin and Endocannabinoid level in Serum juga memberikan penjelasan beberapa hormon yang kemungkinan diproduksi tubuh saat puasa. Jurnal tersebut menyebut puasa mampu meningkatkan opioid endogen dan hormon endorfin. Keduanya adalah hormon yang mampu menimbulkan perasaan bahagia dan dapat menekan efek negatif stres, menjadikannya lebih tenang serta lebih santai.

Meningkatkan Kontrol Diri

Saat berpuasa, seseorang mengontrol diri dari berbagai macam keinginan, baik makan, minim, berhubungan seks, membicarakan orang lain, memaki, berkelahi, dan sebagainya. Beberapa ayat suci al-Qur’an dan al-Hadits yang menunjukkan hal tersebut adalah sebagai berikut.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Rasulullah SAW bersabda, ”Puasa adalah perisai (dari api neraka). Maka, orang yang berpuasa janganlah berhubungan badan dengan istrinya atau berbuat jahil, dan apabila seseorang memaki atau mengajak berkelahi, katakan kepadanya, ’Aku sedang berpuasa.’” Nabi SAW menambahkan, ”Demi Dia yang menggenggam jiwaku, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau misk. (Dan inilah perkataan Allah terhadap orang-orang yang sedang berpuasa), ”Ia tidak akan makan dan minum dan meninggalkan nafsunya karena aku. Puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya, dan setiap kebaikan akan dibalas 10 kali lipatnya.” (HR Bukhari, dalam Az-Zabidi, 2002).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Rasulullah SAW bersabda, ”Siapapun yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan tindakan jahat (pada bulan radhan), Allah tidak membutuhkan puasanya.” (HR Bukhari, dalam Az-Zabidi, 2002).

Berdasarkan hadis di atas, diketahui bahwa puasa ramadhan melatih diri kita untuk bersabar, menahan diri dan mengendalikannya dari stimulasi makanan, minuman, dorongan seks, kemarahan, berdusta, memfitnah, melakukan sumpah palsu, berkata kotor, menggunjing, berbuat nista dan cela

Menurunkan Agresivitas

Agresivitas adalah kecenderungan untuk melakukan perilaku menyakiti orang lain, baik secara fisik ataupun verbal (Baron & Byrne, 2004). Agresi dapat dikurangi atau diperbesar oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal di antaranya adalah kesulitan hidup, rasa marah, dan sebagainya. Faktor eksternal di antaranya adalah provokasi dari orang lain, cuaca yang panas, adanya senjata, dan sebagainya.

Bila seseorang berpuasa, maka ia dilatih untuk mengendalikan diri. Sebuah hadis Nabi mengungkapkan bahwa salah satu yang semestinya dilakukan orang yang berpuasa adalah ”berpuasa berkata-kata yang menyakitkan”.

”Tidaklah berpuasa itu menahan diri dari makan dan minum, tetapi berpuasa itu adalah menahan diri dari perbuatan kosong dan perkataan keji. Maka jika kau dicaci orang atau diperbodohnya, hendaklah katakan: ’Saya berpuasa, saya berpuasa’.” (HR Ibnu Khuzaimah, dalam Sabiq, 2007).

Bila biasanya (di luar puasa) orang membalas ucapan yang kasar dengan ucapan yang sama atau lebih kasar, maka dengan puasa ia berusaha untuk mengendalikan diri. Pengendalian diri yang memiliki frekuensi tinggi ditambah dengan penghayatan yang lebih tinggi (misalnya menghayati bahwa sangatlah kasihan orang yang diejek atau dipermalukan) selama berpuasa akan menjadikan agresivitas atau kecenderungan untuk menyakiti orang lain berkurang.

Kecenderungan untuk menyakiti orang lain juga semakin berkurang dengan adanya aktivitas yang menyenangkan bagi orang lain. Selama berpuasa seseorang dilatih untuk memberi makan kepada orang lain untuk berbuka puasa, menyerahkan zakat mal dan zakat fitrah, memelihara silaturrahmi (beberapa di antaranya dikembangkan melalui acara berbuka puasa bersama), dan sebagainya. Semua hal di atas akan menumbuhkembangkan kepedulian kepada oramg lain.

Ketahanan terhadap stres

Manfaat psikologis dari puasa yaitu bisa mengurangi stres dan menurunkan rasa cemas. Dalam buku berjudul The Fast Diet, Michael Mosley mengatakan puasa dapat menyebabkan pelepasan produksi protein ke otak yang dinamakan BDNF (Brain-derived neurotrophic factor). Protein otak yang dilepaskan ini memiliki efek yang mirip dengan efek obat-obatan antidepresan sehingga tingkat kecemasan, stres, dan depresi ringan bisa menurun.“Ini (puasa) telah terbukti melindungi sel-sel otak dan dapat mengurangi depresi dan kecemasan,” kata Mosley seperti dikutip dari Al Jazeera.Ia menekankan puasa yang dimaksud dalam penjelasannya tersebut adalah bentuk puasa ‘time-restricted eating’, yakni puasa yang hanya makan dalam waktu tertentu seperti puasa Ramadan.

KESIMPULAN

Puasa yaitu menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan, puasa berdampak positif bagi fisik maupun psikis. Puasa dapat meningkatkan ketahanan fisik, menahan diri dari hal-hal yang negatif dan dapat mengurangi depresi juga kecemasan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa Makan Nasi Goreng